ShoutMix chat widget

Tampilkan postingan dengan label Pelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

Pengaruh Pelaksanaan Program KB terhadap Pertumbuhan Kependudukan di Indonesia


Family Planning / Program Keluarga Berencana (KB) sering kali mendapat sorotan yang sangat besar dari publik. Dikarenakan program KB merupakan program baru yang mengusung pengendalian kehamilan dan kelahiran anak. Tidak heran jika sebelum diadakannya program KB, Angka Kematian Ibu (AKI) meningkat tinggi. Namun, disisi lain program KB dapat menstabilkan pertumbuhan kependudukan karena pengaturan kehamilan dan angka kelahiran. Dan juga program KB dapat meningkatkan kesejahteraan, dan kualitas kehidupan manusia.

Al Qur’an sebagai sumber hukum agama Islam menyatakan hal berikut tentang keluarga: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah diciptakanNya untukmu pasangan hidup dari kelompokmu sendiri agar kamu mendapat ketenangan hati dan diberiNya kasih sayang di antara kamu.” (QS, Ar-Rum, Ayat 21). “Dan Allah yang telah menentukan pasangan-pasanganmu dari kelompokmu sendiri, dan lahirkanlah untukmu dari mereka anak-anak dan cucu-cucumu.” (QS, Al Nahl, Ayat 73).

Ulama Islam tidak melarang KB asalkan penundaan kehamilan dan membatasi kelahiran dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan anaknya. Telah dipahami bahwa melahirkan terlalu sering, terlalu dekat waktunya, dan di usia terlalu muda atau terlalu tua akan membahayakan kesehatan dan hidup ibu serta anak. Hal ini juga akan menyulitkan ekonomi keluarga sehingga tak bisa mengasuh, membesarkan dan mendidik anak dengan baik.

Al Qur’an secara jelas menyebutkan bahwa Allah SWT tidak ingin membuat susah hidup manusia: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesusahan bagimu.” (QS, Al Baqarah, Ayat 185). “Allah ingin meringankan bebanmu, karena manusia diciptakan lemah.” (QS, An-Nisa, Ayat 28). Sejak awal Program Keluarga Berencana Nasional tidak hanya berorientasi kepada masalah pengendalian pertumbuhan penduduk tapi untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk Indonesia. KB bukan hanya masalah demografi dan klinis tetapi juga mempunyai dimensi sosial-budaya dan agama, khususnya perubahan sistim nilai dan norma masyarakat. Oleh karena itu perlu pendekatan politis, integratif dan sosial masyaraka.

Masalah yang dihadapi beberapa negara berkembang dewasa ini adalah mengurangi jumlah kemiskinan dengan menggunakan berbagai cara baik melalui peningkatkan infrastruktur ekonomi seperti membangun jalan, jembatan, pasar, serta sarana lain, maupun membangun derajat dan partisipasi masyarakat melalui peningkatan pendidikan maupun kesehatan. Namun demikian kendala utama yang dihadapi hampir semuanya sama, yang umumnya bersumber pada permasalahan kependudukan. Mulai dari masih tingginya angka kematian bayi, dan ibu melahirkan, rendahnya kesadaran masyarakat tentang hak-hak reproduksi, serta masih cukup tingginya laju pertumbuhan penduduk, yang tidak sebanding dengan daya dukung lingkungan.

Pada dasa warsa awal program Keluarga Berencana (KB) berjalan (1970-1980) Indonesia telah dapat menekan laju pertumbuhan penduduk menjadi 2,34 % dari 2.8 % lebih pada dasa warsa sebelumnya, kemudian pada 10 tahun berikutnya (1980-1990) laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan lagi menjadi 1,98 % dan pada dekade berikutnya (1990-2000) tingkat pertumbuhannya menjadi 1,49 % (Haryono Suyono; 2005:29).

Dengan hasil ini, pertumbuhan kependudukan di Indosesia dapat sedikit teratasi, oleh faktor berkurangnya angka kelahiran bayi yang tidak terkendalai (baby boom). Sehingga target dari pemerintahan Indonesia lewat BKKBN mencanangkan sloganvkeluarga berencana yakni ; “Dua anak lebih baik”. Sehingga faktor kemiskinan, perekonomian, serta pertumbuhan penduduk yang tidak merata bisa teratasi dengan baik, agar dapat tercapainya Indonesia sejahtera.

Senin, 18 April 2011

Ciri Bahasa Indonesia Baku


Ketika saya melakukan pencarian dengan kata kunci ‘ciri bahasa Indonesia baku’, alhasil ada 475,000 halaman daring yang memuat kata kunci tersebut. Kendati tidak banyak yang menjelaskan secara detail perihal kata ‘baku’ itu sendiri, saya pun lebih memilih tautan, yang saya anggap bisa dipercaya seperti Wikipedia – Bahasa Indonesia, Laman Pusat Bahasa, Blog Bahtera – Beberapa ciri Bahasa Indonesia Baku, dan Wikipedia – Pedoman ejaan dan penulisan kata.
Menurut buku Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Semenjana Kelas X, bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa yang tidak mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku.
Ciri Bahasa Baku Indoneisa

Gambar diambil dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/nawala.php?info=artikel&infocmd=show&infoid=21&row=

Adapun fungsi bahasa baku ialah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan. Ciri-ciri ragam bahasa baku, yaitu, sebagai berikut.

1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.
2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.
3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.

(Dikutip dari buku Bahasa Indonesia Untuk SMK/MAK Semua Program Keahliaan Kelas X, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Halaman 10)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons