Sabtu, 26 Februari 2011
Jumat, 25 Februari 2011
pertemuan disebuah lentera hati.... yang kian lama kian resah dan menumbuhkan panas...
setiap hari ia makan dari sisa pancaran kuning lentera yang menerangi indahnya sore itu. hari berlalu kian cepat, lentera kian redup, ia tergoyah karena angin yang membelai.
ia mencoba menyibakannya dan berlari diantara angin yang melambai, namun, ia tetap jatuh dan tumbang,
kini ia rebah dalam pelukan sarang, yang menunggu ia siap lagi membara dan menerangi senja...
Selasa, 05 Oktober 2010
JADILAH PENGENDALI WAKTU
nandipinto. (dakwatuna.com) – Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekadar lewat (HR Bukhari)
Dari 7 besaran ISO (International Standard Organization) yang di rumuskan yakni panjang, temperatur, massa, waktu, arus listrik, jumlah zat dan intensitas cahaya, hanya satu besaran yang susah untuk dipahami, waktu. Hidup manusia di dunia terfungsikan oleh waktu. Waktulah yang membatasi antara satu kehidupan dengan kehidupan yang lain.
Waktu menurut para ahli adalah besaran untuk mengukur tingkat perubahan yang terjadi pada benda atau zat. Kita sendiri menjadi bukti dari definisi ini, masih ingatkah saat kita kecil di timang oleh bunda kita atau saat kuda-kudaan dengan ayah kita, namun lihat diri kita sekarang, sudah berubah dari saat kita digendong dan main kuda-kudaan bukan? itu semua karena waktu.
Pada zaman dulu, manusia menganggap waktu itu absolute, kecuali dalam Islam. Waktu dianggap sama saja tidak peduli pada acuannya. Baru pada abad 20, ilmuwan termasyhur abad 20, Albert Einstein mengeluarkan postulat yang menyatakan bahwa waktu bersifat relatif tergantung pada acuannya. Einstein memisalkan, jika seorang laki-laki mengobrol dengannya yang sudah tua, beruban dan keriput, mengobrol satu jam seperti satu abad. Sedangkan jika mengobrol dengan yang masih muda, cantik dan anggun mengobrol lima detik bisa terasa lima jam. Kurang lebih seperti itulah relativitas, kata Einstein.
sekarang mari kita coba untuk membandingkan waktu dengan kerangka acuan waktu di dunia yang berdasarkan atas rotasi dan revolusi bumi atau benda langit lainnya dibandingkan dengan kerangka acuan akhirat berdasarkan berita dari Al-Qur’an dan Al hadits.
Firman Allah dalam Surat al-Mu’minuun [23] : 112-114
Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui .
Dalam ayat ini, aroma relativitas waktu sangat kentara. Bayangkan, manusia yang hidupnya kurang lebih 70 tahun, ketika ditanya Allah menjawab hanya hidup satu hari atau setengah hari. Kemudian ditimpali oleh Allah bahwa hidupnya hanya sebentar saja, hanya sebentar.
Firman Allah yang lain dalam surat An-Naazi’aat [79] : 46
Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.
Dalam ayat ini lebih cepat lagi, hidup kita dirasakan hanya selama waktu sore atau pagi hari. Jika waktu sore di mulai jam 3 dan diakhiri jam 6, berarti kita merasa hidup cuma 3 jam. Dan jika pagi hari dimulai jam 7 dan selesai jam 11 berarti kita merasa hidup hanya 4 jam. Tentu saja lebih sebentar dari ayat sebelumnya.
Firman Allah Selanjutnya dalam surat Yunus [10] : 45
Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.
Pada ayat ini, lebih tinggi lagi komparasinya, hidup kita hanya dirasa SESAAT SAAT SIANG HARI saja, ALLAHUAKBAR.
Dan sekarang mari kita coba untuk menghitung perbandingan lama hidup kita menurut apa yang telah di sampaikan nabi kita.
Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR Hakim dan Thabrani)
Dan Firman Allah dalam surat Al-Ma’arij [70] : 4
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.
Hadits di atas berhubungan dengan keadaan kita nanti di padang mahsyar, kata nabi Muhammad, kita berada di padang mahsyar selama 50ribu tahun yang sama nilainya dengan 50 milenium sama dengan 500 abad sama dengan 6250 windu. Adakah waktu ini sebentar?
Jika kita korelasikan hadits tersebut dengan ayat di bawahnya, kita akan menemukan suatu angka yang sangat fantastis. Mari coba kita hitung. Manusia zaman ini hidup dengan umur rata-rata 70 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia jika dibandingkan dengan relativitas waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 2 MENIT 1 DETIK, nilai tersebut didapat dari perbandingan sederhana yang bisa di hitung oleh siswa SD kelas 4.
Benar , HANYA 2 MENIT 1 DETIK. Maka benarlah pada hari yang dijanjikan itu, manusia-manusia yang ingkar terhadap Robb nya akan diliputi penyesalan yang mendalam, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dipakai untuk hal-hal yang sia-sia, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk melakukan maksiat dan dosa.
Mereka pun mengandaikan bisa kembali ke dunia, namun sayang, penyesalan tinggal penyesalan. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka dan semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut.
Namun saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb, kita paham bahwa pada saat itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk memperjuangkan agama Robb nya. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat buat diri dan sesama. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk senantiasa beribadah kepada Ilah nya. Mereka pun puas akan apa yang dilakukannya. Tidak sia-sia setiap tetes keringat dan tiap tetes darah yang mereka keluarkan demi kemuliaan agama ini. Tidak sia-sia mereka menahan gejolak mengumbar aurat dan berjuang menahan panas memakai jilbab bagi wanita. Tidak sia-sia mereka menahan setiap sentuhan, pandangan, pendengaran dari yang tak semestinya dilakukan. Benar, tidak akan sia-sia setiap amal kebaikan kita. Itulah hidup kita kawan, hanya sebentar.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (QS al-Hasyr [59] : 18)
Perhitungan di atas memakai acuan padang mahsyar dan acuan waktu dunia, karena memang acuan padang mahsyar saja yang bisa kita perbandingkan. Sebab, kehidupan dunia ini tak akan bisa kita komparasi dengan surga atau neraka. Setiap yang kafir dan munafik masuk neraka sedangkan muslim masuk surga. Mereka yang munafik adalah orang-orang yang mengetahui hukum Allah namun kemudian ingkar, mereka yang menerapkan agama secara parsial, mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain dan mereka yang muslim namun ragu akan nilai keislamannya.
Dan agama ini sudah sempurna. Baik dan buruk, halal dan haram sudah ditetapkan dengan jelas. Setiap aturan kehidupan mulai dari pergaulan, ekonomi, tatacara politik, pendidikan, sosial, hukum, dan ibadah sudah paripurna. Semua kembali kepada kita, maukah memakainya atau kita tetap dengan keadaan sekarang. Keadaan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Wallahu a’lam bi ash shawab.
Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat? (HR MuslimJumat, 03 September 2010
CINTA PUTIH

Berdiri dalam bayang-bayang cahaya bulan
Tak dapat menerjang sisi gelap malam
Hanya diri terpaku penuh harapan
Menemukan sesuatu yang hilang
Desis angin membisiki daun telinga
Tentang cinta seputih kapas
Penanti kedatangan Sang Rembulan
Lalu mulai menuai kapas menjadi seuntai benang
Menempuh demi rintangan
Pintalan benang-benang panjang
Beberapa impian kelak indah
Menutupi bayangan hitam masa lalu
Silih berganti siang dan malam penggerak jarum jam
Dahulu benang panjang yang masih menanti
Kini telah menyatukan benang terpisah
Dari kain putih penutup resah
menajadi pakain taqwa seorang hamba
"Inna fii ikhtilaafil lailli wan nahaari wa maa khalaqa llahu fis samawati wal ardh la aayatil liqaumiy yattaqun"(QS.yunus:6)
sesungguhnya pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.
PadaMu kupasrahkan yaa Robb...
Dibalik awan rembulan tersenyum
kepada Para Pencari ikhlas
Persembahan seorang hamba pada sang Maha Kasih
Ya illahi robbi...
by : dp
Senin, 03 Mei 2010
MUTIARA YANG HILANG
Sebuah imajinasi seakan enggan tuk pergi
Dan akan selalu ada dan tersimpan kokoh dalam hayalan ku
Q yakin inilah mutiara hati
Aku coba tuk meraih mutiara itu
Tapi aku tak mampu
Ia seakan takrela dalam genggamanku
Ntah apa yang terjadi
Mutiara itu ingin lepas….bebas
Tak ada yang bisa menahannya
Akusedih mutiara hatiku hilang
Ia bebas untuk selamanya
Tak ada yang tau kemana tujuannya
Iapergi entah kemana
Seakan berjalan, pergi bersama sang waktu
BY : N&D
PeNGaNTiN BiDaDaRi
PeNGaNTiN BiDaDaRi
Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian… *** Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan. Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah. “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka. Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?” “Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun” “Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi. “Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan. Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan “Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?”, Tanya Fulan. “Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup. “Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku”, Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?” Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.” Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya. Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,”Duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?” Jawab istrinya, “Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.” Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang. Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya. “Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.” Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu” *** Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya
Hadirnya tanpa kusadari
Menggamit kasih cinta bersemi
Hadir cinta insan padaku ini
Anugerah kurniaan Ilahi
Lembut tutur bicaranya
Menarik hatiku untuk mendekatinya
Kesopanannya memikat di hati
Mendamaikan jiwaku yang resah ini
Ya Allah Jika dia benar untukku
Dekatkanlah hatinya dengan hatiku
Jika dia bukan milikku
Damaikanlah hatiku
Dengan ketentuan-Mu
Dialah permata yang dicari
Selama ini baru kutemui
Tapi ku tak pasti rencana Ilahi
Apakah dia kan kumiliki
Tidak sekali dinodai nafsu
Akan kubatasi dengan syariat-Mu
Jika dirinya bukan untukku
Redha hatiku dengan ketentuan-Mu
Ya Allah Engkaulah tempat kubergantung harapanku
Kuharap diriku sentiasa di bawah rahmat-Mu
SEBUAH PENANTIAN
Parasmu yang bersinar
Tak lepas dari ingatan ku
Senyummu yang lembut
Selalu menemani hari-hariku
Aku ingin memebalas senyum itu
Tapi aku tak bisa
Aku tak punya keberanian tuk itu
Karena tak sebanding dengan apa yang kurasa
Kini aku pasrah menerima takdir hidupku
Aku tak sanggup mengungkapkan segala rasa itu
Biarlah rasa ini akan selalu aku simpan
Akan ku letakkan ia dalam kotak indah di qalbuku
Kutak mau ada yang mencurinya
Kan aku kunci rapat di hatiku
Hingga suatu saat hanya seorang yang bisa membukanya
BY : N&D


22.46
Nandi Pinto Amrizal

